Swift

Camping With Kids: Curug Ciputri Bogor


Yeaay.. akhirnya camping lagi, bareng temen-temen Keano dan keluarganya masing-masing. Setelah jalan bareng mendaki Papandayan (cerita lengkapnya di sini), demam camping menggelora terutama di kalangan ayah. Camping keluarga ini tak luput dari peran para ayah yang hobi nongkrong di warkop Indomie setelah anter anak sekolah. Yass, di sekolah Keano gak cuma ibu-ibunya yang demen kumpul, bapak-bapaknya gak mau kalah. Setelah perundingan singkat antar mereka, info ini pun disebar ke keluarga masing-masing. Tanpa banyak perlawanan, jadilah keluarga-keluarga ini berangkat, ke Curug Ciputri.


Sebelum lanjut, bolehlah lihat-lihat dulu video di bawah..



Curug Ciputri, lokasi persisnya ada di Desa Tapos, Tenjolaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Yang suka camping ke Curug Nangka, naaah.. arahnya deket-deket situlah. Masih di kaki Gunung Salak, tapi beda punggungan kalau liat peta. Di sini bisa camping di bumi perkemahannya. Lokasi rapih, parkiran mobil cukup luas, mushola dan kamar mandi tersedia, airnya banyak, ada warung juga 24 jam yang jualan makanan ringan dan berat macam mi instan atau nasi goreng. Dari Depok, bisa ditempuh sekitar 2 sampai 3 jam perjalanan normal.

Ngajak anak ke sini, bisa banget. Salah satu keluarga di rombongan kami bahkan bawa bayi cewek, si neng geulis Sarah, adiknya Daffa teman sekelas Keano.


Kami masing-masing bawa tenda. Yang punya tenda lebih, dibawa juga buat cadangan dan minjemin kalau ada yang gak punya tenda. Ternyata memang berlebih. Akhirnya 7 tenda saja yang berdiri, plus sejumlah hammock tergantung yang sering jadi rebutan. Rebutannya gak cuma antar anak lho, sempet juga antara bapak-bapak dan anak-anak hahaha.. Maklum ya, udara seger ditambah pemandangan ijo-ijo memang enak dinikmati sambil leyeh-leyeh. Lupakan gadget di sini, sebab keseruan camping rame-rame terlalu asyik untuk dijalani.

Soal tenda, saya nggak tau persis apakah ada penyewaan tenda di sini. Mestinya sih di setiap bumi perkemahan ada penyewaan tenda dan alat camping.


Camping di Curug Ciputri lumayan enak. Selain dekat dari Jabodetabek, udara dan cuaca juga cukup mendukung. Gak gerah, tapi gak terlalu dingin juga. Bahkan banyak di antara kami yang pilih tidur di hammock. Seger, nyenyak, bebas nyamuk.

Untuk urusan logistik, masing-masing keluarga bawa bekal. Masaknya sekalian. Jadi tinggal keluarkan logistik yang dibawa, terus ada aja yang masakin. Menunya variatif. Mulai dari mi instan, sempat ada juga pasta, sampe nasi liwet khas buatan ayah Malaika.


Kalau sudah kayak gini, apa yang di depan mata sudah pasti enak. Lahap semua. Anak-anak pasti happy, sebab camping jadi waktunya mereka untuk makan indomi.


Yang paling saya suka dari camping kali ini, saya bisa melihat Lana dan Keano asyik main dengan teman-temannya. Gak cuma Keano yang berteman dengan kawan sekelasnya, Lana juga jadi kenal dan akrab. Begitu juga dengan kakak atau adik teman Keano. Masing-masing anggota keluarga pun jadi saling menjaga. Kapan lagi kayak gini, semua berasa jadi sodara.


Gak ada acara khusus dalam camping keluarga ini. Tapiii..... ada Dzaki teman Keano yang menjadi penghibur kami. Ke mana-mana bawa ukulele dan hobi menyanyi. Berbadan besar, suara Zaki sih nggak merdu-merdu amat, petikan ukulele-nya juga gak beraturan dan sumbang. Yang bikin salut, semua lagu yang dinyanyikan adalah ciptaan Dzaki sendiri. Bisa tentang pohon, binatang, atau makanan. Jangan tanya juga kayak gimana bentuk lagunya. Karena semua lirik dinyanyikan dengan nada yang sama hahahaha... Meski demikian, untuk anak SD kelas 1, keberanian Dzaki luar biasa. Pun dengan rasa percaya dirinya. Gak boleh liat orang ngumpul, Dzaki akan bertanya.. "ayoooo pada minta lagu apa??" sambil dia menghitung jumlah penontonnya. Bravo Dzakiiii 😍


Satu malam menginap, pagi hari kami isi dengan trekking dari bumi perkemahan ke air terjun. Curug berarti air terjun, Ciputri nama curugnya. Perjalanan sekitar setengah jam jalan kakilah, rutenya pun landai ramah anak.


Tiba di lokasi, anak-anak langsung pada mandi. Padahal.. brrr dingin banget. Saya nggak mau turun. Cukup nonton aja. Anak-anak ketemu air, ya doyan. Apalagi ada air terjunnya. Saya cuma khawatir ketemu pacet aja. Sebab, Lana pernah kena pacet waktu mandi di air terjun saat camping di Situ Gunung


Keano gak terlalu lama mandi, menyerah sama dinginnya air. Tapi... ada Vano yang justru menangis karena gak mau berhenti mandi. Vano juga terlalu asik cari ikan. Dinginnya air, mungkin jadi nggak berasa lagi.


Acara mandi pagi di air terjun, diakhiri dengan sesi foto bersama. Ada yang bersama seluruh rombongan. Ada juga yang bersama keluarga masing-masing. Macam di studio foto gitulah. Bedanya, backgroundnya bukan gambar tempelan, melainkan asli pemandangan.


Seluruh keluarga kebagian foto. Ada yang lengkap ayah ibu dan anak (plus kakak dan adik), ada yang memang pesertanya ayah dan anak doang. Ada juga ayah, anak dan keponakan. Sayang gak semua bisa kekumpul di sini fotonya.


Balik dari curug, makaaan dong pastinya. Chefnya ayah Malaika yang sibuk bikin nasi liwet. Asistennya anak-anak. Yang lain, nonton sambil leyeh-leyeh nunggu makanan mateng hehehe..
Camping keluarga yang seru. Bisa diulang lagi lain waktu.


*****

You Might Also Like

0 komentar