Swift

Camping With Kids: Dua Malam di Situ Gunung


Kami sedang sibuk packing ketika Novi, teman baik saya sejak masa kuliah menanyakan apakah saya, suami serta Lana dan Keano jadi camping. Novi mengirimkan pesan lewat whatsapps sekitar jam 8 pagi. Ketika ia tahu kami jadi mau ke Situ Gunung, Novi langsung ingin ikut bersama kedua anaknya, Rakha dan Echa. Yes.. saya sih seneng aja. Bocah-bocah jadi ada temannya. Biasanya. kalau kami camping cuma berempat, aktivitas main mereka yah.. cuma berduaan. Tambah teman pasti lebih seru. Apalagi sebelumnya anak-anak kami sudah saling kenal.



Awalnya Novi dan keluarga (minus sang suami karena bekerja di luar kota) mau gabung satu mobil. Tapi, mengingat perabotan lenong camping yang begitu banyak, bermodal nekat Novi akhirnya membawa mobil sendiri. Salut buat sahabat saya yang satu ini. Situ Gunung ada di Sukabumi Jawa Barat. Dan inilah pertama kalinya, teman yang waktu saya menikah ikut sibuk mengurusi pesta pernikahan kami, menyetir jauh dari kediamannya di Cibubur sendirian. Ayo Nov.. kita konvoy pelan-pelan ke Sukabumi.

Situ Gunung termasuk dalam kawasan Taman Nasional Gede Pangrango. Jaraknya dari Bogor sekitar 70 km. Kalau nggak macet perjalanannya cukup 2 jam ke arah Sukabumi. Sampai di Cisaat (patokannya kalau udah ketemu Polsek Cisaat) tinggal belok kiri. Ikuti jalan sekitar 10 km, sampailah di gerbang masuknya.

Dari Depok kami berangkat sekitar pukul 12 siang. Lepas maghrib kami baru tiba di perkemahan. Jadilah aktifitasnya hanya bobok usai tenda berdiri.





Tiket Situ Gunung Rp 25.000 per orang. Keano nggak masuk hitungan karena masih kecil. Harga tiket sudah termasuk camping ground, danau (situ) gunung, dan air terjun (curug) Sawer. Ada petugas yang membantu membawakan perabotan camping kami, serta dengan sigap membantu mendirikan 3 tenda yang kami bawa.

Dari parkiran, camping ground terdekat sekitar 100 m. Parkirnya cukup luas, bisa menampung bus segala dan relatif aman karena terletak di sebelah kantor pengelola. Enaknya camping di sini, ada colokan listrik di lokasi yang bisa dipakai buat ngecharge berbagai gadget. Kalau sinyal handphone, kadang ada kadang nggak. Karena itu saya memilih mematikan hp biar irit baterei. Kamar mandi lumayan banyak dan gratis. Air melimpah dan wiiiw.. dingin banget, sama kaya udaranya yang bisa bikin menggigil di malam hari.




Paginya, anak-anak sudah siap menjelajah. Tujuan pertama adalah danau atau situ Gunung. Dari camping ground jaraknya sekitar 1 km. Bisa naik ojek, tapi kok ya gak seru. Masa' camping naik ojek. Bocah-bocah inipun kami ajak jalan kaki. Jalanannya datar, lebar dan dilapisi kerikil. Jalan menurun baru kami temui ketika sudah mendekati danau.



Dan ini dia, Situ Gunung. Danau buatan di tengah hutan. Ketinggiannya 850 mdpl. Cantik. Luasnya sekitar 6 hektar. Di sini nggak boleh membuka tenda. Makanya pengunjung seperti kami menggelar tenda di camping ground, baru keliaran sana sini. Kalau mau jajan, di tepi area danau ada banyak warung yang menjual makanan dan minuman. Lihat air, Lana dan Keano udah nggak sabar mau naik bebek-bebekan. Sementara anak-anak akamsi, biasa main rakit di danau ini. Hebat euy.. pada berani-berani dan jago mengendalikan rakit sendiri. Padahal katanya danau ini dalam, terutama di bagian tengah. Saya nggak tau persis berapa dalam karena nggak mau coba nyebur juga hehehe.... 





Situ Gunung dikelilingi oleh hutan pinus. Anak-anak seneng banget waktu suami minta mereka bergaya. Kalau liat hasil fotonya, lokasi ini bagus buat dijadikan lokasi foto prewed. Monggo lho yang mau coba.




Dari danau kami menuju Curug Sawer. Jaraknya dua kali lebih jauh. Medannya harus melintasi 2 bukit. Untungnya anak-anak kuat dan happy menjalaninya. Jalur ke Curug Sawer udah mirip mendaki gunung. Ada banyak tanjakan dan turunan curam. Jalurnya sih bersih dan berupa jalan tanah. Sesekali Keano kecapekan. Tapi setelah diajak nyanyi dan bercanda, bocah bungsu saya semangat lagi buat ke air terjun.




Sesuai perkiraan, benar saja. Anak-anak langsung lupa begitu melihat derasnya air tumpah. Semua gak sabar untuk nyemplung. Air terjun mengalir deras, dan menghasilkan aliran sungai yang jernih di bawahnya. Dihiasi batu-batu besar, ini pemandangan mahal buat anak-anak kami. Cuma ya itu... airnya super dinginnnn. Baru main air sebentar, bibir Keano sudah membiru dan giginya gemeretak. Meski begitu, dia masih belum mau keluar dari air. "Seeeruuuu Ma..." kata Keano dengan logat cadelnya.





Drama terjadi ketika Lana kena pacet. Ia menangis mencoba melepaskan si penghisap darah warna-warni itu dari jemari tangannya. Melihat Lana menangis, Novi juga ikut nangis hehehe.. Untung emaknya Lana lumayan sadis. Pacet pengganggu anak saya, langsung saya sikat. Pegang, potong dua badannya, dan kemudian saya tarik dari ujung jari Lana. Seluruh tubuh bongsor Lana langsung saya periksa. Jangan sampai ada pacet nyelip di antaranya. Usai drama itu, anak-anak langsung mandi dan berganti baju. Jadi tipsnya buat pengunjung Curug Sawer, hindari tepi sungai yang lembab dan banyak daunnya. Di situlah biasanya pacet bersarang.




Perjalanan pulang ke camping ground, terasa dua kali lebih berat. Soalnya badan sudah letih sangat. Berkali-kali saya menghibur Keano dengan bernyanyi dan bercerita sepanjang jalan. Setidaknya cara ini berhasil membuat Keano lupa akan idenya untuk digendong sampai tempat tujuan hehehe... 

Kalau sudah begini, ketemu tenda berasa surga. Lana langsung leyeh-leyeh bersama Echa sambil baca buku kesukaannya. Keano juga masuk tenda dan tidur. Saya, suami dan Keano berada dalam satu tenda. Lana bersama Echa. Novi bersama Rakha. Gak lama Keano tidur, saya tengok tenda Lana, dan ternyata... 2 gadis kecil juga sudah pulas tidur siang. 

Selain kami, ada banyak tenda lain juga berdiri. Maklum sedang libur panjang. Ada keluarga lain juga yang camping, juga kumpulan anak-anak muda. Kalau di belakang tenda kami, isinya gerombolan pemuda asal India. Mereka turis India asli, bukan dari Passer Baroe. Lucu juga melihat gaya mereka foto-foto. Persis kaya di film-film. Tidur di rerumputan, dan meluk-meluk pohon. Ok..lupakan bagian mereka meluk pohon karena itu hiperbola saya. Pemuda hindustan ini cuma gogoleran, dan gak pake nyanyi juga.



Malam terakhir kami di Situ Gunung dihabiskan dengan membuat api unggun. Mungkin ini menjadi momen tak terlupakan buat anak-anak. Soalnya sampai sekarang, dua bulan setelah acara lewat, masih sering jadi bahan cerita. Bagaimana hebatnya mama membuat api unggun, karena ternyata, tanpa miyak tanah, butuh ketelitian dan kesabaran untuk membuat api tetap menyala. Bolehlah sombong dikit. Soalnya terus terang suami gak sabaran ngurus beginian. Sementara Novi juga sibuk menyiapkan makanan. Jadilah bagian menyenangkan anak-anak saya yang dapat giliran. 



Paginya kami sarapan banyak banget. Mulai dari chicken wing, nugget, sosis, telur, spagheti sampai nasi goreng. Belum termasuk roti bakar dan biskuit sebagai ganjal sebelum semua makanan matang. Intinya kami gak mau pulang dengan membawa masih banyak perbekalan. Muatan mobil harus berkurang. Jadilah sarapan pagi itu seperti pesta. Anak-anak, emak-emak dan bapaknya bisa meninggalkan Situ Gunung dengan penuh kenangan serta perut kekenyangan. Love it...!!!




*****


You Might Also Like

3 komentar

  1. ayo jelajah Taman Nasional dan Taman Wisata Alam di Indonesia. Informasimya dapat di download di Play Store. Cari "Wisata Alam Indonesia" dan dowload.

    ReplyDelete
  2. mantaaap.... jadi pengen nih ngajak anak anak kemping ke Situ Gunung

    ReplyDelete